MENGELOLA ARUS KAS KELUARGA


Rasanya persoalan dalam kehidupan ini tidak pernah ada hentinya di manapun kita berada. Demikian pula dalam kehidupan finansial kita. Ketika telah memiliki penghasilan yang stabil atau bahkan bertambah sesuai peningkatan jenjang karier, kita masih akan menghadapi persoalan. Persoalan itu adalah apakah kita mampu memanfaatkan uang yang dengan susah payah kita kumpulkan itu sesuai dengan tujuan hidup kita? Hal ini sangat terkait dengan bagaimana kita mengatur arus kas keuangan. Sebab persoalan arus kas akan menentukan ke mana penghasilan yang selama ini diperjuangkan itu pergi, yang ujungnya membawa konsekuensi apakah suatu keberhasilan atau kegagalan finansial. Prinsip mendasar yang sangat mudah diterima adalah realitas keterbatasan pemasukan dibandingkan dengan tujuan/impian/cita-cita finansial. Hal ini haruslah menyadarkan kita akan pentingnya mengatur arus kas, bagi kepentingan jangka pendek apalagi untuk tujuan jangka panjang. Keduanya harus dilakukan secara bersama-sama, simultan, dan terencana.  Sebab kegagalan mengatur arus kas berarti juga kegagalan mengatur jalan kehidupan finasial yang akan berujung pada kegagalan seluruh kehidupan finansial, tidak peduli berapa pun besar penghasilan dan kekayaan yang telah Anda capai.

Pengaturan arus kas harus mampu mengintegrasikan tujuan-tujuan finansial dengan proyeksi penghasilan dan pengeluaran, dengan mengarahkan segala kemampuan finansial secara maksimal guna mencapai tujuan finansial jangka pendek maupun jangka panjang. Tujuan Jangka Pendek dan Panjang. Dalam kaitannya dengan arus kas, dana, atau uang yang kita miliki bukan saja untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek (sekarang) tapi juga harus memperhatikan tujuan keuangan jangka panjang. Jadi di sini adanya fungsi yang harus dipertimbangkan, yaitu fungsi likuiditas untuk kebutuhan jangka pendek dan darurat serta fungsi pertumbuhan (investasi) untuk mengembangkan aset yang dimiliki agar mencapai tujuan/cita-cita keuangan yang diinginkan.

Berdasarkan kedua fungsi ini, jumlah dan tempat di mana uang itu berada haruslah sesuai dengan tujuan keuangan secara keseluruhan. Sebab memegang/mengalokasikan uang pada tempat yang tidak sesuai dengan tujuan keuangan Anda akan menimbulkan akibat jelek, kehilangan kesempatan penambahan nilai uang atau kesulitan mengeluarkan uang pada saat memerlukannya.

Penempatan Dana Berdasarkan Fungsinya

Jenis penyimpanan uang harus mengacu pada tujuan finansial. Ini berarti bukan hanya pada berapa besar pendapatan/bunga yang Anda peroleh, tetapi pada apakah penyimpanan yang Anda lakukan telah sesuai dengan tujuan keuangan Anda.
Fungsi likuiditas memiliki dua fokus utama, yaitu memenuhi kebutuhan hidup keluarga secara berkesinambungan dan menjaga terhadap risiko jangka pendek yang mungkin terjadi.

Memenuhi kebutuhan hidup menjadi langkah awal membangun arus kas yang baik. Adanya fungsi pertumbuhan (investasi) tentunya perlu dipertimbangkan kebutuhan hidup yang sesuai dengan pendapatan yang dimiliki.

Kesederhanaan. Kesederhanaan adalah kesadaran untuk mengontrol kebutuhan pokok kehidupan berkeluarga. Kesederhanaan sama halnya dengan seni. Kesederhanaan memerlukan tidak hanya membuang kemewahan hidup, tapi juga perubahan cara pandang dari dalam. Ada orang yang mengartikan sederhana dengan kecenderungan mengawasi pengeluarannya dengan sangat ketat. Hal ini tidak memecahkan permasalahan, yaitu kesejahteraan lahir batin. Dengan pembatasan berlebihan malah merusak kepuasan kehidupan berkeluarga. Intisari dari kesederhanaan, yaitu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, menjadi sangat penting dalam menumbuhkan hubungan yang selaras dan lebih sehat berkenaan dengan uang. Dalam hal ini tidak ada rumus yang dapat memenuhi standar semua orang. Kita mengenal orang yang kikir dan materialistik, padahal ia hanya memiliki sedikit harta dan di lain pihak Anda juga menjumpai orang yang menyenangkan dan relatif mandiri yang memiliki kebendaan melimpah.
Sikap dasar kita terhadap uanglah yang paling memegang peranan penting dan menentukan. Mereka yang dapat mengelola arus kasnya dengan bijak akan dapat menyisihkan atau menyimpannya dengan mudah. Mereka melihat uang bukan sebagai tujuan akhir, tetapi lebih melihat apa yang dapat dilakukan dengannya. Banyak dari kita yang terjerat dengan simbol-simbol sukses yang ada di permukaan dan mengabaikan perasaan batin kita. Yang harus diperhatikan dan terus dipelajari adalah bagaimana menyeimbangkan keinginan dan kepuasan dengan keterbatasan pemasukan.

Fungsi likuiditas yang kedua adalah menjaga kelangsungan kehidupan bila terjadi risiko jangka pendek dengan menyiapkan dana darurat yang besarnya antara 3-6 bulan biaya hidup. Penempatan kedua hal tersebut seperti fungsinya sebagai likuidtas harus mempertimbangkan sarana penempatan dana yang tinggi tingkat likuiditasnya.

Uang Tunai.

Uang tunai merupakan alat pembayaran yang paling likuid, artinya dapat dipakai setiap saat untuk melakukan pembayaran tanpa dikenai biaya. Nilai nominalnya akan tetap, tetapi karena pengaruh inflasi maka kekuatan nilai pembayarannya akan berkurang. Sebagai contoh, apabila satu tahun lalu uang sebesar Rp 2.000.000 akan dapat dibelikan satu buah tempat tidur, dengan uang yang sama saat ini, tidak dapat dibelikan barang yang sama. Besarnya alokasi pada uang tunai sebaiknya secukupnya saja, misalkan untuk kebutuhan harian keluarga, seperti uang jajan anak, membayar pembantu, belanja di pasar tradisional, atau makan di warung.

Tabungan/Debit Card/ATM.

Prinsip kerjanya adalah pada saat kita memiliki sejumlah uang di bank kita dapat meminta kartu ATM atau kartu debit (sesuai dengan fasilitas yang diberikan bank). Setiap saat kita bisa mengambil uang tunai di ATM atau menggunakannya sebagai sarana pembayaran dengan jumlah maksimal sesuai dengan uang yang kita miliki di bank. Dengan demikian kartu ini bukanlah merupakan alat pembayaran, tetapi hanya untuk memberikan kemudahan pada nasabah bank dalam melakukan pembayaran tanpa harus membawa uang tunai. Terdapat pembatasan jumlah uang yang dapat diambil melalui mesin ATM dalam satu hari. Misalnya dalam satu hari maksimal uang yang dapat diambil adalah Rp 5 juta, sedangkan pengambilan lebih dari itu harus dilakukan melalui teller. Hal ini menurut hemat kami sudah cukup untuk dapat dijadikan sebagai sarana penempatan dana sebagai fungsi likuidas.

Fungsi pertumbuhan, yaitu dengan mengembangkan aset atau dana yang dimiliki paling tidak untuk melawan inflasi guna mencapai tujuan keuangan jangka panjang yang diinginkan. Fungsi pertumbuhan harus memperhatikan dua hal penting, yaitu jangka waktu dan profil risiko Anda sebagai investor. Penempatan dana/uang sebagai fungsi pertumbuhan yang salah akan berakibat fatal terhadap tujuan atau cita-cita keuangan yang Anda miliki. Untuk itu kita perlu kiranya melihat berbagai saran investasi yang saat ini bisa dimiliki.

Deposito
Deposito merupakan instrumen investasi yang paling aman dan memiliki tingkat suku bunga atau tingkat pengembalian terendah pula. Anda dapat memulai investasi hanya dengan investasi awal sekitar Rp 7 juta. Jangka waktu penempatan deposito umumnya adalah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.

Obligasi.
Obligasi pada dasarnya adalah surat utang yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan atau institusi kepada investor dengan janji membayar bunga secara periodik selama periode tertentu serta membayar nilai nominalnya pada saat jatuh tempo. Obligasi bisa menjadi alternatif investasi jangka panjang dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari deposito. Dengan adanya ORI maka investor dengan modal kecil juga bisa berpartisipasi langsung untuk memiliki obligasi.

Saham
Saham merupakan surat kepemilikan terhadap suatu perusahaan yang telah go public. Saham dapat diperoleh pada saat IPO (Initial Public Offering) atau di pasar sekunder. Investasi awal yang harus dikeluarkan relatif beragam, hampir berlainan di setiap perusahaan sekuritas, misalnya Rp 25 juta. Investor memperoleh kesempatan untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang dari laba perusahaan dalam bentuk dividen dan capital gain dari kenaikan harga saham di kemudian hari.

Reksadana
Reksadana merupakan instrumen investasi yang memiliki risiko terukur sesuai dengan jenisnya, dengan tingkat pengembalian yang relatif cukup besar. Investasi awal dari reksadana cukup murah, di mana dengan hanya Rp 500.000 Anda sudah dapat membeli produk reksadana dengan membeli unit penyertaan dari produk reksadana tersebut. Reksadana merupakan instrumen investasi alternatif yang sangat bagus karena memberikan beberapa manfaat bagi investor, antara lain adalah akses kepada instrumen investasi seperti saham atau obligasi, pengelolaan oleh manager investasi profesional, diversifikasi investasi dengan dana relatif kecil, hasil investasi dari reksadana bukan merupakan objek pajak, dan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.

Properti
Properti adalah investasi dalam asset tangible, bisa berupa tanah atau bangunan. Tingkat pengembalian dari investasi di bidang properti cukup tinggi. Akan tetapi tingkat likuiditasnya rendah. Tapi sebagai instrumen jangka panjang properti merupakan investasi yang menjanjikan.

Emas
Emas sudah merupakan pilihan investasi masyarakat tradisional di Indonesia. Banyak warga masyarakat yang menyimpan uangnya dalam bentuk emas perhiasan bukan saja bisa menjadi sarana investasi, tapi juga menjadi perhiasaan yang bisa dipakai.
Investasi di emas sangat baik dalam keadaan di mana tingkat inflasi suatu negara sangat besar, seperti yang terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Di tahun 1993 harga emas murni 24 karat sekitar Rp 24.000 dan di tahun 1998 harganya melonjak tinggi sampai Rp 140.000 per gram serta tahun 2009 (Juni) sekitar Rp 280.000 per gramnya. Jadi selama masih adanya tingkat inflasi maka harga emas akan selalu meningkat.

Melalui berbagai alternatif produk investasi yang ada, sesuaikan dengan pemahaman Anda terhadap instrumen yang ada dan tentunya pertimbangkan profil risiko investasi yang bisa Anda tanggung. Awalnya, bila dana yang dimiliki masih kecil, sarana investasi di reksadana dengan keunggulan diversifikasinya akan mempermudah kita untuk memulai. Nah, itulah sebenarnya pola mengelola arus kas keluarga yang bijak, bukan saja untuk kebutuhan harian keluarga tapi juga perlu adanya proteksi jangka pendek serta penempatan dana untuk tujuan jangka panjang.

This entry was posted on June 24, 2009, in 1. 2 Comments

Mekanisme Perdagangan Saham


Sebelum dapat melakukan transaksi, terlebih dahulu investor harus menjadi nasabah di perusahaan Efek atau kantor broker. Di BEI terdapat sekitar 120 perusahaan Efek yang menjadi anggota BEI.  Pertama kali investor melakukan pembukaan rekening dengan mengisi dokumen pembukaan rekening. Di dalam dokumen pembukaan rekening tersebut memuat identitas nasabah lengkap (termasuk tujuan investasi dan keadaan keuangan) serta keterangan tentang investasi yang akan dilakukan.

Nasabah atau investor dapat melakukan order jual atau beli setelah investor disetujui untuk menjadi nasabah di perusahaan Efek yang bersangkutan. Umumnya setiap perusahaan Efek mewajibkan kepada nasabahnya untuk mendepositkan sejumlah uang tertentu sebagai jaminan bahwa nasabah tersebut layak melakukan jual beli saham. Jumlah deposit yang diwajibkan bervariasi; misalnya ada yang mewajibkan sebesar Rp 25 juta, sementara yang lain mewajibkan sebesar Rp 15 juta dan seterusnya.

Pada dasarnya tidak ada batasan minimal dan jumlah dana untuk membeli saham. Dalam perdagangan saham, jumlah saham yang dijual-belikan dilakukan dalam satuan perdagangan yang disebut dengan lot. Di Bursa Efek Indonesia, satu lot berarti 500 saham dan itulah batas minimal pembelian saham. Lalu dana yang dibutuhkan menjadi bervariasi karena beragamnya harga saham yang tercatat di Bursa. Misalnya harga saham XYZ Rp 1.000, maka dana minimal yang dibutuhkan untuk membeli satu lot saham tersebut menjadi ( 500 dikali Rp 1.000) sejumlah Rp 500.000. Sebagai ilustrasi lain, jika saham ABC harga per sahamnya Rp 2.500 maka dana minimal untuk membeli saham tersebut berarti ( 500 dikali Rp 2.500) sebesar Rp 1.250.000,-.
Di BEI, transaksi dilakukan pada hari-hari tertentu yang disebut Hari Bursa, yaitu:

Hari Bursa

Sesi Perdagangan

Waktu

Senin s/d Kamis Sesi I
Sesi II
Jam 09.30 – 12.00 WIB
Jam 13.30 – 16.00 WIB

Jum’at

Sesi I
Sesi II
Jam 09.30 – 11.30 WIB
Jam 14.00 – 16.00 WIB

Dilihat dari prosesnya, maka urutan perdagangan saham atau Efek lainnya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Menjadi Nasabah di Perusahaan Efek. Pada bagian ini, seseorang yang akan menjadi investor terlebih dahulu menjadi nasabah atau membuka rekening di salah satu broker atau Perusahaan Efek. Setelah resmi terdaftar menjadi nasabah, maka investor dapat melakuka kegiatan transaksi.
  2. Order dari nasabah. Kegiatan jual beli saham diawali dengan instruksi yang disampaikan investor kepada broker. Pada tahap ini, perintah atau order dapat dilakukan secara langsung dimana investor datang ke kantor broker atau order disampaikan melalui sarana komunikasi seperti telpon atau sarana komunikasi lainnya.
  3. Diteruskan ke Floor Trader. Setiap order yang masuk ke broker selanjutnya akan diteruskan ke petugas broker tersebut yang berada di lantai bursa atau yang sering disebut floor trader.
  4. Masukkan order ke JATS. Floor trader akan memasukkan (entry) semua order yang diterimanya kedalam sistem komputer JATS. Di lantai bursa, terdapat ratusan terminal JATS yang menjadi sarana entry order-order dari nasabah. Seluruh order yang masuk ke sistem JATS dapat dipantau baik oleh floor trader, petugas di kantor broker dan investor. Dalam tahap ini, terdapat komunikasi antara pihak broker dengan investor agar dapat terpenuhi tujuan order yang disampaikan investor baik untuk beli maupun jual. Termasuk pada tahap ini, berdasarkan perintah investor, floor trader melakukan beberapa perubahan order, seperti perubahan harga penawaran, dan beberapa perubahan lainnya.
  5. Transaksi Terjadi (matched). Pada tahap ini order yang dimasukkan ke sistem JATS bertemu dengan harga yang sesuai dan tercatat di sistem JATS sebagai transaksi yang telah terjadi (done), dalam arti sebuah order beli atau jual telah bertemu dengan harga yang cocok. Pada tahap ini pihak floor trader atau petugas di kantor broker akan memberikan informasi kepada investor bahwa order yang disampaikan telah terpenuhi.
  6. Penyelesaian Transaksi (settlement). Tahap akhir dari sebuah siklus transaksi adalah penyelesaian transaksi atau sering disebut settlement. Investor tidak otomatis mendapatkan hak-haknya karena pada tahap ini dibutuhkan beberapa proses seperti kliring, pemindahbukuan, dan lain-lain hingga akhirnya hak-hak investor terpenuhi, seperti investor yang menjual saham akan mendapatkan uang, sementara investor yang melakukan pembelian saham akan mendapatkan saham. Di BEI, proses penyelesaian transaksi berlangsung selama 3 hari bursa. Artinya jika melakukan transaksi hari ini (T), maka hak-hak kita akan dipenuhi selama 3 hari bursa berikutnya, atau dikenal dengan istilah T + 3.
This entry was posted on June 21, 2009, in 1. 1 Comment

Dividen (dividend) VS Harga Saham


Saham dapat memberikan keuntungan yang lebih besar melalui capital gain atau perubahan harga saham. Namun demikian keuntungan yang lebih besar tersebut sifatnya tidak pasti. Setiap perusahaan membayarkan dividen sesuai dengan kebijakan perusahaan, sehingga dalam jumlah dan bentuk pembayarannya pun dapat berbeda sejalan dengan kebijakan yang berbeda pula (Fuad Rahman, 2006). Dengan demikian, investor yang ingin memperoleh pendapatan tetap maka hendaknya membeli saham yang memiliki harga stabil dan pembayaran dividen dengan jumlah yang stabil pula, sedangkan bagi investor yang ingin memperoleh keuntungan dengan cepat dapat melakukan jual beli saham.

Fungsi pasar modal bagi perusahaan adalah sebagai salah satu sumber modal perusahaan yang potensial untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Namun lepas dari kepentingan perusahaan sebagai pihak yang memerlukan modal, investor pun membeli sekuritas karena mengharapkan keuntungan. Keuntungan dari jenis sekuritas saham berupa dividen yang dibayarkan perusahaan setiap tahun buku, serta capital gain sebagai keuntungan dari hasil penjualan kembali saham yang dimiliki (Harnanto, 2004: 181). Karena itu, nilai suatu saham sangat tergantung sejauh mana investor, baik perseorangan ataupun institusi, percaya bahwa perusahaan tersebut mampu memberikan return sesuai dengan yang diharapkan. Ketika penghasilan perusahaan naik, keyakinan investor juga akan naik, maka harga saham pun biasanya naik. Namun jika perusahaan mengalami kerugian atau tidak mencapai target yang diharapkan, harga saham biasanya jatuh (Arif Bahrudin, 1997).

Harga saham secara teknikal akan berfluktuasi sesuai dengan permintaan dan penawaran, akan tetapi kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan pembagian dividen tunai juga akan mempengaruhi reaksi investor atau calon investor untuk membeli, menjual atau menahan sahamnya. Reaksi investor dalam membeli, menjual atau menaham saham inilah yang akhirnya akan membuat harga saham berubah-ubah.

Salah satu kebijakan yang harus diambil oleh manajemen perusahaan adalah memutuskan apakah laba yang diperoleh oleh perusahaan selama satu periode akan dibagi semua atau dibagi sebagian untuk dividen dan sebagian lagi tidak dibagi dalam bentuk laba ditahan (kebijakan dividen). Kebijakan dividen merupakan salah satu keputusan penting dalam kaitannya dengan usaha untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Kebijakan dividen yang optimal (optimal dividend policy)  adalah kebijakan yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan di masa mendatang yang memaksimumkan harga saham (Eugene F. Brigham et. al., 2001: 66).

Dengan demikian, kebijakan dividen pada prinsipnya menghasilkan dua variabel yaitu dividen tunai dan laba ditahan dengan tujuan untuk menghasilkan keseimbangan antara dividen saat sekarang dan petumbuhan perusahaan di masa mendatang. Keseimbangan ini diharapkan akan memberikan pengaruh positif yang pada akhirnya akan memaksimumkan harga saham.

Menurut Sutrisno (2001: 305) ada beberapa bentuk kebijakan pemberian dividen secara tunai atau cash dividend yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham. Bentuk kebijakan dividen tersebut adalah: (1)   Kebijakan pemberian dividen stabil, (2) Kebijakan dividen yang meningkat, (3) Kebijakan dividen dengan rasio yang konstan, dan (4) Kebijakan pemberian dividen regular yang rendah ditambah ekstra.

Menurut pasal 62 Undang-Undang Perseroan Terbatas (UUPT) No. 1/1995 Bagian Kedua mengenai penggunaan laba, jelas disebutkan bahwa keputusan mengenai dividen diputuskan oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Keputusan yang diambil tentunya atas usul Dewan Direksi (Board of Directors) perseroan.

Apabila seseorang memiliki saham suatu perusahaan, maka orang tersebut akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. Besar kecilnya hak seseorang terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan tergantung pada jumlah lembar saham yang dimiliki.

Harga pasar sahan adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain (Abdul Halim, 2005: 16). Harga ini terjadi setelah saham tersebut tercatat di bursa. Sedangkan menurut Panji Anaroga dan Piji Pakarti (2003: 59) Harga pasar saham adalah harga saham tersebut pada pasar riil, dan merupakan harga yang paling mudah ditentukan karena merupakan harga dari suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung atau jika pasar ditutup, maka harga pasar adalah harga penutupannya. Dengan demikian, harga pasar saham dapat diartikan sebagai harga jual saham yang terjadi akibat adanya penawaran dan permintaan saham dari para investor yang bertindak sebagai penjual dan pembeli saham. Harga pasar saham ini akan dijadikan tolak ukur oleh investor, untuk mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya.

Hasil penelitian Watts, Ross (1973), Aharony dan Swary (1980), dan Tian, Zhang dan Cao (2006) menunjukkan bahwa perubahan besarnya dividen dan pengumuman earning mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap harga saham. Kemudian Winatha (2007) dengan menggunakan uji beda terhadap rata-rata return saham dan rata rata abnormal return saham di sekitar pengumuman dividen dan pengumuman earning juga menunjukkan bahwa variabel pengumuman dividen dan pengumuman earning ternyata tidak berpengaruh secara signifikan terhadap return saham.

This entry was posted on June 18, 2009, in 1. 4 Comments

Mengelola Keuangan Keluarga


Banyak orang merasa bahwa membicarakan keuangan dalam keluarga adalah tabu. Namun sesungguhnya, hal ini malah seharusnya dibicarakan. Apakah dengan membiarkan persoalan keuangan dalam keluarga berlarut-larut akan menyelesaikan segalanya? Atau bisa menjadi bola salju yang terus membesar? Persoalan kecil bisa menjadi besar bila tidak diatasi dan diselesaikan dengan bijak. Oleh karena itu dalam hal keuangan keluarga sangat dibutuhkan sebuah pola pengelolaan dimana masing-masing individu di dalam keluarga (suami dan istri) memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Dengan pembagian tanggung jawab serta diskusi yang mendalam dapat meringankan persoalan yang mungkin timbul di masa depan.


Berikut ini ada tiga tipe pengelolaan keuangan yang bisa Anda pilih sesuai keinginan Anda bersama pasangan Anda. Tentunya masih banyak lagi pola pengelolaan yang ada. Hal terpenting disini adalah saling keterbukaan serta menjalani kehidupan keluarga dengan tanggung jawab bersama.

(1) Uang bersama dan sistem amplop

Penghasilan suami istri langsung digabung bersama. Setelah itu, gabungan kedua pendapatan langsung dialokasikan ke pos-pos pengeluaran rutin yang telah
dihitung lebih dulu. Lazimnya, setiap pos diwakili oleh satu amplop. Pos-pos pengeluaran itu, pada beberapa keluarga, bukan saja kebutuhan rumah tangga
makan minum, dan listrik saja, tapi juga termasuk membayar kredit rumah, cicilan mobil, telepon, uang sekolah anak, asuransi dan kebutuhan mobil (bensin, servis berkala, kerusakan, dan lain-lain). Bahkan tabungan, pengeluaran pribadi suami-istri dan liburan pun memakai amplop tersendiri. Bila ada sisa, dimasukkan ke dalam tabungan suami atau istri, atau khusus membuka lagi account bersama di bank untuk menampung sisa amplop setiap bulannya.

(2) Membagi berdasar prosentase

Bentuk manajemen ini adalah membagi tanggung jawab dalam bentuk jumlah atau prosentase. Seluruh kebutuhan keluarga setiap bulan dihitung termasuk pos
darurat dan pos tabungan. Masing-masing sepakat menyumbang sebesar jumlah tertentu untuk menutupi kebutuhan tersebut. Sisanya digunakan sebagai
tabungan pribadi untuk kebutuhan pribadi. Misalnya, istri membeli parfum, lipstik, atau baju. Bisa juga tanpa dihitung kebutuhan keluarga terlebih
dahulu, suami-istri memberi kontribusi yang sama berdasarkan prosentase. Misalnya 80:20. Artinya, masing-masing menyetor 80 persen dari gajinya.
Sisanya 20 persen disimpan untuk diri sendiri. Jika bisa berhemat, dari uang bersama yang 80 persen, bisa tersisa untuk tabungan keluarga, disamping suami dan istri juga masing-masing punya tabungan pribadi.

(3) Membagi Tanggung Jawab

Misalnya, suami mengeluarkan biaya untuk urusan berat, seperti membayar kredit rumah, cicilan mobil, listrik, telepon, uang sekolah anak, kebutuhan
mobil dan asuransi. Sementara bagian istri adalah belanja logistik bulanan, pernak-pernik rumah, jajan, dan liburan akhir pekan dan pos tabungan. Dilihat
dari jumlahnya, suami menanggung lebih banyak dana. Tapi istri juga punya peranan dalam kontribusi dana rumah tangga. Kalau ternyata istri yang memiliki pendapatan yang lebih besar, tentunya hal ini bisa dilakukan sebaliknya. Mana yang terbaik? Hal ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan tentunya kesepakatan antara suami dan istri. Diskusikan hal ini dengan pasangan masing-masing, agar persoalan keuangan keluarga bukan lagi menajdi masalah dalam keluarga.


Kalau istri tidak bekerja, Bagaimana?

Ketiga contoh di atas merupakan pola alokasi dari pendapatan suami dan istri. Dimana suami dan istri bekerja dan menghasilkan pendapatan secara reguler
setiap bulannya. Bagaimana pula bila hanya suami atau istri yang bekerja? Sedangkan pasangan yang lainnya tinggal di rumah?

Bila hal ini yang menjadi pola keuangan di keluarga Anda, tentunya akan sangat baik bila Anda dan pasangan Anda membicarakan tugas serta tanggung jawab masing-masing. Mungkin Anda sebagai suami karena bekerja, yang berusaha memenuhi semua kebutuhan keluarga. Sedangkan istri yang tinggal di rumah
bertanggung jawab dalam hal rumah tangga, mulai dari persoalan belanja reguler bulanan sampai alokasi tabungan (dari pendapatan suami) untuk berbagai macam tujuan keuangan keluarga yang dimiliki. Dalam hal ini istri harusnya seperti manajer dalam sebuah perusahaan.

Dengan membagi tanggung jawab bersama, suami tidak lagi merasa lebih dibandingkan istri. Karena kedua individu di dalam keluarga tersebut memiliki
tanggung jawab masing-masing. Untuk itulah keterbukaan dan diskusi mengenai keuangan menjadi sangat dibutuhkan.


Tiga hal penting dalam mengelola keuangan bersama:

Pertama, pembagian kerja sangatlah dibutuhkan dalam hal mengatur keuangan. Contoh singkatnya, siapa yang membayar semua kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Misalkan Anda sebagai istri yang harus membayarnya maka suami dalam hal ini harus mentransfer dana yang cukup setiap bulannya untuk
memenuhi semua kebutuhan keuangan keluarga. Bila Anda memutuskan untuk mendelegasikan satu orang untuk membayar semua tagihan bulanan keluarga, maka hal penting yang harus diperhatikan adalah kejujuran. Dimana Anda berdua haruslah terbuka satu sama lain yang berkenaan dengan permasalahan uang. Jangan sampai bila Anda menggunakan rekening bersama dan salah satu dari Anda mengambil dana dalam jumlah besar dan tidak mengatakan kepada pasangan Anda. Begitu pasangan Anda membutuhkan untuk hal yang sangat penting ternyata dana yang tersedia tidak mencukupi.

Kedua, pengeluaran yang disepakati menjadi sangat vital. Anda berdua harus mencapai kata sepakat dalam merencanakan pengeluaran. Hal ini biasanya
berkaitan dengan pengeluaran yang tidak tetap, misalkan keputusan untuk apakah akan mengganti mobil dengan yang baru setelah beberapa tahun? Atau apa yang Anda berdua pikirkan berkenaan dengan liburan? Sebagai kesimpulan, Anda harus membicarakan dan bersepakat dalam kebutuhan yang harus dipenuhi, apa yang menjadi keinginan bersama dan apa yang dapat Anda penuhi.


Ketiga, hal terakhir yang menjadi sangat penting adalah menabung. Dalam hal ini visi kedepan menjadi sangat penting. dimana dengan tujuan yang Anda dan pasangan Anda tentukan, akan memberikan motivasi serta pemilihan strategi yang dapat membantu Anda mencapai tujuan masa depan yang telah ditentukan. Dengan begitu Anda juga akan melihat pentingnya pengalokasian dana saat ini dan dimulai saat ini juga

This entry was posted on April 29, 2009, in 1. 2 Comments

Tips Meredam Marah


Marah dan emosi adalah tabiat manusia. Kita tidak dilarang marah, namun diperintahkan untuk mengendalikannya agar tidak sampai menimbulkan efek negatif. Dalam riwayat Abu Said al-Khudri Rasulullah saw bersabda Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridlai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridlai (H.R. Ahmad).

Dalam riwayat Abu Hurairah dikatakan Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah (H.R. Malik).

Menahan marah bukan pekerjaan gampang, sangat sulit untuk melakukannya. Ketika ada orang bikin gara-gara yang memancing emosi kita, barangkali darah kita langsung naik ke ubun-ubun, tangan sudah gemetar mau memukul, sumpah serapah sudah berada di ujung lidah tinggal menumpahkan saja, tapi jika saat itu kita mampu menahannya, maka bersyukurlah, karena kita termasuk orang yang kuat.


Cara-cara
meredam atau mengendalikan kemarahan:

1. Membaca Ta’awwudz. Rasulullah bersabda Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A’uudzu billah mina-syaithaani-r-rajiim Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (H.R. Bukhari Muslim).

2. Berwudlu. Rasulullah bersabda Kemarahan itu itu dari syetan, sedangkan syetan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah (H.R. Abud Dawud).

3. Duduk. Dalam sebuah hadist dikatakanKalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah (H.R. Abu Dawud).

4. Diam. Dalam sebuah hadist dikatakan Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah (H.R. Ahmad).

5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuahhadist dikatakan Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud). (H.R. Tirmidzi)

This entry was posted on April 19, 2009, in 1. 1 Comment

Assets Allocation Policy


The Influence Of Asset Allocation Policy On The Performance Of Contractual Type Open-End Investment Fund

(Equity Fund, Fixed Income Fund, and Balanced Fund).

ABSTRACT
A number of studies indicate that performance of mutual fund is mostly influenced by asset allocation policy. It is also indicated that there is a phenomenon where relationship between asset allocation policy and asset allocation implementation by investment manager is inconsistent. Referring to these observable facts, this study is carried out with the following objectives: (i) to analyze performance of three different types of mutual funds (i.e., equity, fixed income, and balanced funds); (ii) to analyze the influence of asset allocation policy on performance of the above-mentioned types of mutual funds; and (iii) to comprehend the level of consistence of fund managers in executing asset allocation policies.
Descriptive method was performed in this study. Secondary data relating to mutual fund performance analyses were used. These sets of data were collected from a number of publications published by Bank of Indonesia, the Surabaya Stock Exchange, Jakarta Stock Exchange, and Bapepam. The Sharpe Ratio (Elton et al., 2003:295) was used to determine performance of mutual funds under investigation. Multiple linear regression analysis whose statistical equation models were developed based on Asset Class Factor Model (Sharpe F. William, 1992) was used to analyze the impact of asset allocation policy and security selection on mutual fund performance.

The Results of this study show that performances of all types of mutual funds during the period between 2001 and 2003 were higher than performance of their benchmarks (i.e., market return levels). It was also found that asset allocation policy significantly influenced performance of equity fund, fixed income fund, and of balanced fund. This indicated that performance of mutual fund was determined by this activity of investment managers. Finally, results of the study found that there was no significant difference between asset allocation policy and asset allocation realization which has been executed by investment managers of equity fund and fixed income fund. This means that asset allocation policy was consistently accomplished by investment managers of these two types of mutual fund. A different finding determined for investment managers of balanced fund. There was found a significant difference between asset allocation policy and asset allocation indicating that investment managers of balanced fund were inconsistent in implementing their asset allocation policies.

Keywords: equity fund; fixed income fund; balanced fund; asset allocation policy; investment policy; mutual fund performance.

This entry was posted on March 24, 2009, in 1.

TEKNIK ALOKASI MODAL KERJA DAN INVESTASI


Setiap perusahaan membutuhkan modal kerja untuk membelanjai operasinya sehari-hari. Manajemen modal kerja berkepentingan terhadap keputusan investasi pada aktiva lancar dan utang lancar terutama mengenai pengaturan penggunaan komposisi keduanya akan mempengaruhi resiko, sehingga manajemen modal kerja merupakan salah satu aspek terpenting dari keseluruhan manajemen keuangan perusahaan. Apabila perusahaan tidak dapat mempertahankan/dicukupi-nya “tingkat modal kerja yang memuaskan”, maka kemungkinan sekali perusahaan akan berada dalam keadaan illikuid (tidak mampu membayar kewajiban-kewajiban yang sudah jatuh tempo) dan bahkan terpaksa mungkin harus dilikuidasi. Selanjutnya perusahaan yang tidak mempunyai modal kerja yang cukup tidak akan dapat membayar kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya dan akan menghadapi masalah likuiditas.
Salah satu rasio modal kerja yang terpenting adalah rasio lancar, yaitu: aktiva lancar dibagi dengan kewajiban lancar. Rasio ini dimaksudkan untuk memberikan informasi mengenai likuiditas perusahaan, atau kemampuan untuk membayar kewajiban yang akan jatuh tempo dalam setahun. Namun rasio lancar yang tinggi belum menjamin perusahaan akan mempunyai kas yang diperlukan untuk memenuhi kewajibannya. Jika persediaan tidak terjual dan piutang tidak tertagih secara tepat waktu, keamanan yang tercermin pada rasio lancar yang tinggi sebenarnya hanyalah bersifat semu. Begitu juga dengan rasio cepat belum memberikan gambaran likuiditas yang lengkap, karena belum memperlihatkan berapa besarnya arus kas dari operasi, yang dapat digunakan untuk memenuhi kewajibannya. Jadi untuk menentukan likuiditas yang tepat bagi suatu perusahaan perlu memperhatikan juga arus kasnya.
Kebutuhan modal kerja secara garis besar ditentukan oleh 4 (empat) faktor yaitu volume penjualan, faktor musiman, perkembangan teknologi dan philosophi perusahaan.

Volume penjualan merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi besar kecilnya komponen-komponen modal kerja. Suatu perusahaan menanamkan sebagian dana yang dimilikinya dalam modal kerja untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan yang tertumpu pada penjualan.

Faktor musiman, beberapa perusahaan akan mengalami fluktuasi musiman dalam permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkannya. Usaha-usaha untuk memenuhi berbagai fluktuasi permintaan tersebut memerlukan jumlah modal kerja yang berbeda.

Perkembangan teknologi, terutama yang berhubungan dengan proses produksi dapat mempunyai pengaruh terhadap penentuan kebutuhan akan modal kerja.

Kebijakan perusahaan juga dapat mempengaruhi tingkat kebutuhan akan modal kerja dalam perusahaan tersebut.
Keempat faktor tersebut di atas perlu diperhatikan oleh pimpinan perusahaan di dalam penentuan kebutuhan modal kerja yang efektif dan efisien. Terpenuhinya modal kerja menjadi sangat penting untuk pertumbuhan penjualan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar kemungkinan akan kehilangan pendapatan dan keuntungan.
Kebijakan modal kerja mengacu pada kebijakan dasar perusahaan mengenai berapa banyak investasi yang harus dilakukan pada setiap kategori aktiva lancar dan bagaimana investasi tersebut harus dibiayai.

This entry was posted on January 10, 2009, in Uncategorized. 1 Comment