Perkembangan Behavioral Finance


Perkembangan dan kemunculan behavioral finance diawali dengan penolakan terhadap hipotesa pasar efisien. Profesor Robert J. Shiller dari Universitas Yale adalah seorang yang mempunyai pengaruh besar dengan mengungkapkan bahwa pasar adalah tidak sepenuhnya efisien. Melalui kertas kerja yang berjudul Do stock price move too much to be justified by subsequent changes in dividends yang dipublikasi di The American Economic Review pada tahun 1981, ia menunjukkan terjadi excess volatility antara harga saham dengan fundamental yang mendasarinya, harga saham berflutuasi lebih tinggi dari fundamentalnya. Kertas kerja tersebut menimbulkan perdebatan yang luas dari kalangan akademisi, Paul A. Samuelson menyatakan dari pendapat Shiller bahwa “pada tingkat pasar secara keseluruhan tidak menunjukkan efisiensi secara makro” dan pasca kejatuhan indeks Dow Jones pada Oktober 1987, Bruce Wasserstein mengatakan “buku professor Shiller menawarkan kenyataan baru bagaimana pasar tidak sepenuhnya rasional dan efisien” dan Peter Spiro (1990) menyatakan bahwa ia adalah pemimpin dari penentang ekspektasi rasional/pasar efisien walaupun banyak analis keuangan tidak menyetujui hipotesa pasar efisen tetapi dia yang pertama kali menentang secara terbuka dan Spiro menyebutnya sebagai “guru” (Schwert, 1991).

Pada saat Shiller menunjukkan adanya ketidak efisienan pasar melalui excess volatility, ia sendiri tidak mengetahui faktor apa yang menerangkan pasar menjadi tidak efisien. Dipengaruhi oleh istrinya yang seorang mahasiswa doktoral bidang psikologi pada universitas Daleware, ia mencoba menawarkan penjelasan ketidak efisienan pasar dengan pendekatan ilmu sosial dan pada makalah yang berjudul “Stock Prices and Social Dynamics” (sekarang pemikiran tersebut sebagai paradigma standar dari behavioral finance) pada pertemuan di Brooking Institute[1]. Pada konferensi tersebut ia mendapatkan respon penolakan seperti yang dia nyatakan pada wawancara dengan John Y Campbell:

“…beberapa dari mereka mencoba untuk memarjinalisasi atau mengabaikan apa yang kita katakan. Mereka cenderung mencoba untuk menolak teori tanpa melihat padanya. Mereka selalu mendeskripsikan, bahwa kita mempunyai kesalahan yang serius, sebuah kesalahan bodoh. Walaupun demikian, saya tidak berpikir ini adalah sebuah penerimaan buruk secara keseluruhan, akhir dari permulaan. Pekerjaan kita sunguh-sungguh meliputi membuka pikiran orang-orang, yang sunguh-sungguh melihat bukti…” (diterjemahkan dari Campbell, 2004, hal.661)

Ejekan tidak hanya secara lisan dalam konferensi, secara tertulis G. William Schwert salah seorang pendukung hipotesa pasar efisien menjulukinya dengan ‘sosiolog amatiran’. Pada konferensi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa setiap pergerakan pasar saham harus mempunyai landasan rasional. Ia merespon kesimpulan tersebut dengan mengatakan bahwa kesimpulan tersebut adalah kesalahan ‘satu dari kesalahan terbesar dari sejarah pemikiran ekonomi’.

Pelopor lain dari behavioral finance adalah Richad H. Thaler, seorang profesor ekonomi dan ilmu keperilakuan dari Universitas Chicago. Thaler menjadi anomali karena menyimpang dari pemikiran ekonomi neoklasik yang dikembangkan dari sekolah pemikir ekonomi (economic schools of thought) di Universtas Chichago. Sekolah tersebut merupakan sekolah ekonomi yang paling terkenal karena banyak ekonom penerima hadiah nobel ekonomi dilahirkan dari sekolah tersebut dan pemikiran ekonominya menjadi mainstream dalam bidangnya.  Demikian juga dengan hipotesa pasar efisien, dikembangkan di universitas tersebut dan menjadi hipotesa sentral dari ilmu ekonomi keuangan. Thaler dan Shiller sudah bertemu sejak tahun 1982, dan keduanya adalah seorang murtad dari pemikiran ekpektasi rasional karena keduanya menulis desertasi doktoralnya bersandarkan paradigma tersebut tetapi akhirnya membelot dengan mengembangkan behavioral finance.

Sejak tahun 1991, Richard H. Thaler bersama dengan Robert J. Shiller dari Universitas Yale mengkoordinasi workshop pada National Biro Economic Research (NBER) dengan dukungan dana dari Russell Sage Foundation. Sejak saat itu penelitian dengan tema behavioral finance semakin berkembang pesat. Perkembangan tersebut ditandai dengan tumbuhnya kertas kerja yang mengambil topik behavioral finance. Jurnal-jurnal ilmiah utama ilmu keuangan seperti The Journal of Finance dan Journal of Financial Economics[2] sudah menjadi media publikasi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kalangan akademisi keuangan menerima keberadaannya dan behavioral finance menjadi cara berpikir baru dalam memahami fenomena ekonomi keuangan.

Pengintegrasian ilmu psikologi ke dalam ilmu ekonomi dan keuangan membuat Daniel Kahneman, yang memodelkan perilaku manusia mengambil resiko dari ilmu psikologi ke dalam ilmu ekonomi dengan nama teori prospek, diganjar hadiah nobel ekonomi tahun 2002, demikian pengakuannya dalam sambutan penerimaan hadiah nobel: “Interaksi kami dengan Thaler akhirnya memberi bukti yang lebih bermanfaat dari yang kami bayangkan pada waktu itu, dan terdapat sebuah faktor utama dalam penerimaan hadiah nobel saya. Komite menunjuk saya “untuk pengintregrasian dari penelitian ilmu psikologi kedalam ilmu ekonomi”…Amos dan saya memberikan relatif kecil dari ide awal yang kemudian diintegrasikan kedalam cara berpikir beberapa ekonom, dan teori prospek tanpa keraguan menghasilkan beberapa pengakuan dalam usaha menggambarkan psikologi sebagai sumber asumsi yang realistis tentang pelaku ekonomi. Tetapi pendiri dari teks behavioral economics adalah artikel pertama dari Thaler (1980)…Saya percaya, dengan beberapa pencarian Dick dengan apa yang sekarang disebut sebagai behavioral finance[3] (diterjemahkan dari Nobel Laurate tahun 2002)

Jika dibandingkan dengan ilmu keuangan periode sebelumnya, behavioral finance masih berumur lebih muda. Ia sudah dikembangkan tidak hanya sebatas konsepsi tetapi sudah diturunkan menjadi metode operasional untuk menganalisis dan menjelaskan keberadaan mispricing harga saham. Menjelaskan mengapa individu tidak melakukan diversifikasi seperti saran Markowitz (1952,1959) dan bagaimana noise trader menciptakan pasar yang tidak efisien. Behavioral finance lebih diminati oleh kaum muda yang hendak memperoleh gelar doktor dan penelitian pada bidang tersebut terus berkembang dari waktu-kewaktu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Shiller, 2003). Demikian juga alasan komite nobel ekonomi memberi hadiah karena bidang tersebut paling aktif dalam ekonomi, yang diukur dari publikasi dijurnal utama, desertasi doktor baru, seminar dan workshop dan konferensi (The Royal Swedish Academy of Sciences, 2002). Walaupun masih terdapat banyak kritik terhadap ilmu tersebut, Profesor Jay Ritter (2003) dari Universitas Florida mempunyai keyakinan bahwa behavioral finance bukan cabang dari ilmu keuangan tetapi mempunyai masa depan sebagai main stream dari ilmu keuangan. Senada dengan apa yang diyakini Profesor Jay Ritter, Profesor Richard Roll dari UCLA Anderson School of Management yang pada tahun 1987 terpilih sebagai presiden American Finance Association menyatakan: “pada tiga dekade yang lalu tidak terdapat riset dalam ilmu keuangan mainstream yang menghubungkan ilmu psikologi dan disiplin yang sesuai. Sekarang, terdapat banyak referensi dalam jurnal utama…tidak ada keragu-raguan bahwa behavioral finance secara cepat menjadi mainstream, paling tidak jika kita mengukur jarak ilmu mainstream dengan bagian yang sangat kecil dari halaman yang dipublikasi pada jurnal peer review”. (diterjemahkan dari Kai, 2004, hal. 43 dikutip dari Roll, 2001, hal.6-7).

Telah dimuatnya pemikiran-pemikiran tentang behavioral finance pada jurnal-jurnal mainstream seperti Journal of Finance, Journal of Financial Economic, The Review of  Financial Studies dan Journal of Financial and Quantitative Analysis yang merupakan jurnal-jurnal keuangan papan atas di Amerika telah menumbuhkan keyakinan dari Profesor Jay Ritter dan Profesor Richard Roll bahwa behavioral finance merupakan the next financial mainstream science yang akan digunakan dalam menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena dari ekonomi keuangan.

Perkembangan teori behavioral finance tidak hanya memengaruhi secara akademisi, tetapi sudah memengaruhi bagaimana pelaku pasar mengelola dananya dengan panduan disiplin tersebut. Secara praktis teori tersebut telah digunakan oleh beberapa manajer investasi besar seperti J.P Morgan dan Morgan Stenley yang telah membentuk satu devisi pengelola dana dengan menggunakan disiplin behavioral finance. Reksadana tersebut telah diluncurkan pada bulan Februari 2003, dan selama tiga tahun mempunyai kinerja yang sangat kuat. Pada laporan per 30 Juni 2006, jumlah dana yang telah dikelolanya mencapai USD 70 milyar, atau setara dengan Rp. 700 trilyun dengan kurs per USD/Rp. 10.000,0.(JP Morgan Asset Management, 2006). Ini menunjukkan bahwa pemahaman ekonomi keuangan dengan model perilaku manusia yang telah diintegrasikan oleh Daniel Kahneman, Robert J. Shiller dan Richard H. Thaler telah mendapatkan tempat yang layak dan bergengsi, tidak terbatas memengaruhi cara berpikir akademisi tetapi sudah digunakan oleh praktisi untuk mencari keberuntungan di pasar modal maupun jenis pasar lainnya.

 

Sumber: http://keuanganperilaku.blogspot.co.id/2012/01/perkembangan-behavioral-finance.html

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s